Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/h80574/units/acc/plugins/system/rokextender/rokextender.php on line 32

Strict Standards: Non-static method JSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/h80574/units/acc/templates/ot_surfdev/lib/layout/tpl.function.php on line 56

Strict Standards: Non-static method JApplication::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/h80574/units/acc/includes/application.php on line 539

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/h80574/units/acc/templates/ot_surfdev/lib/layout/tpl.function.php on line 56

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/h80574/units/acc/templates/ot_surfdev/lib/layout/tpl.function.php on line 166
Stress Kerja

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/h80574/units/acc/modules/mod_ot_minitabs/mod_ot_minitabs.php on line 21

Stress Kerja

Jenis-jenis  Stres

Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:

  • Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
  • Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

Pengertian  Stres  Kerja

Definisi stres kerja dapat dinyatakan sebagai berikut :

“Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction” (Selye, dalam Beehr, et al., 1992: 623)

Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.

Sumber-sumber  Stres  Kerja

Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Soewondo (1992) mengadakan penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta,  menemukan bahwa penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni:

  1. Kondisi dan situasi pekerjaan
  2. Pekerjaannya
  3. Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas
  4. Hubungan interpersonal

 

Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni:

  1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.
  2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.
  3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup.
  4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.

Sedangkan Cooper dan Davidson (1991) membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi dua, yakni:

  • Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam perusahaan.
  • Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran.

Cooper (dalam Rice, 1999) memberikan daftar lengkap stressor dari sumber pekerjaan yang tertera pada tabel  berikut:
 

Stressor
Dari
Stres Kerja

Faktor Yang Mempengaruhi
(Hal-hal Yang Mungkin Terjadi Di Lapangan)

Konsekuensi Kondisi Yang
Mungkin Muncul

Kondisi pekerjaan

  • Beban kerja berlebihan secara kuantitatif
  • Beban kerja berlebihan secara kualitatif
  • Assembly-line hysteria
  • Keputusan yang dibuat oleh seseorang
  • Bahaya fisik
  • Jadwal bekerja
  • Technostress
  • Kelelahan mental dan/atau fisik
  • Kelelahan yang amat sangat dalam bekerja (burnout)
  • Meningkatnya kesensitivan dan ketegangan

 

Stress karena peran

  • Ketidakjelasan peran
  • Adanya bias dalam membedakan gender dan stereotype peran gender
  • Pelecehan seksual
  • Meningkatnya kecemasan dan ketegangan
  • Menurunnya prestasi pekerjaan

Faktor interpersonal

 

  • Hasil kerja dan sistem dukungan sosial yang buruk
  • Persaingan politik, kecemburuan dan kemarahan
  • Kurangnya perhatian manajemen terhadap karyawan
  • Meningkatnya ketegangan
  • Meningkatnya tekanan darah
  • Ketidakpuasan kerja

Perkembangan karir

  • Promosi ke jabatan yang lebih rendah dari kemampuannya
  • Promosi ke jabatan yang lebih tinggi dari kemampuannya
  • Keamanan pekerjaannya
  • Ambisi yang berlebihan sehingga mengakibatkan frustrasi
  • Menurunnya produktivitas
  • Kehilangan rasa percaya diri
  • Meningkatkan kesensitifan dan ketegangan
  • Ketidakpuasan kerja

Struktur organisasi

  • Struktur yang kaku dan tidak bersahabat
  • Pertempuran politik
  • Pengawasan dan pelatihan yang tidak seimbang
  • Ketidakterlibatan dalam membuat keputusan

 

  • Menurunnya motivasi dan produktivitas
  • Ketidakpuasan kerja

Tampilan rumah-pekerjaan

  • Mencampurkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi
  • Kurangnya dukungan dari pasangan hidup
  • Konflik pernikahan
  • Stres karena memiliki dua pekerjaan

 

  • Meningkatnya konflik dan kelelahan mental
  • Menurunnya motivasi dan produktivitas
  • Meningkatnya konflik pernikahan

 

Dampak  Stres  Kerja

Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi dan sebagainya (Rice, 1999). Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain di luar pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya.

Sedangkan Arnold (1986) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.

Penelitian yang dilakukan Halim (1986) di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manager dan mandor di perusahaan swasta  menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada dua.
Dua hal tersebut adalah:

  • Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, mual.
  • Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, ingin meninggalkan situasi stres.

Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Greenberg & Baron, 1993; Quick & Quick, 1984; Robbins, 1993).

Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:

1. Gejala psikologis

Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan :

  • Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
  • Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
  • Sensitif dan hyperreactivity
  • Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
  • Komunikasi yang tidak efektif
  • Perasaan terkucil dan terasing
  • Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
  • Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
  • Kehilangan spontanitas dan kreativitas
  • Menurunnya rasa percaya diri

2. Gejala fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

  • Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular
  • Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
  • Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
  • Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
  • Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)
  • Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
  • Gangguan pada kulit
  • Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
  • Gangguan tidur
  • Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

3. Gejala perilaku

Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

  • Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
  • Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
  • Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
  • Perilaku sabotase dalam pekerjaan
  • Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas
  • Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi
  • Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi
  • Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas
  • Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
  • Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

Mengatasi Stress di Tempat Kerja

Tenang

Ambil nafas panjang dan cobalah untuk sedikit santai dan. Tenangkan diri Anda.

Kenali Permasalahan

Cobalah untuk mengenali akar permasalahan , apa yang membuat Anda resah. Dengan begitu Anda akan dapat mencari cara penyelesaiannya.

Terapi

Ikutlah kelompok sosial sehingga Anda dapat melupakan sejenak tekanan yang menghimpit Anda. Ini akan menjadi terapi yang murah untuk Anda.

Hadapilah

Daripada Anda menghindar dari permasalahan yang ada, sebaiknya hadapi dan selesaikan agar tidak mengganggu lagi.

 

Atur jadwal

Buatlah jadwal mana yang harus diprioritaskan lebih dulu dan mana yang dapat ditunda. Perkecil peluang untuk mengalami stres dengan mempersibuk diri sendiri.

Diskusi

Diskusikan masalah yang menyebabkan stres dengan atasan, teman atau psikolog

Curhat

Ceritakan masalah yang Anda hadapi peda keluarga atau pasangan. Mereka pasti akan membantu mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah Anda.

Buat keseimbangan

Stres muncul karena Anda terlalu fokus pada pekerjaan, bagilah waktu antara pekerjaaan dan keluarga. Melakukan hal-hal bersama keluarga akan membuat Anda segar kembali.

Pahami tugas dan kewajiban Anda

Mungkin inilah yang jelas-jelas akan mengurangi stres yang Anda alami ditempat kerja. Dengan mengetahui kewajiban, Anda akan mampu mengatur waktu dan rutinitas sehingga peluang stres akan makin kecil.